Please enable JavaScript to access this page. Hukum Melakukan Kawin Kontrak Menurut Islam - cendikia zone

Hukum Melakukan Kawin Kontrak Menurut Islam



Cendikiazone - Perkawinan kontrak atau mut’ah telah diharamkan oleh kesepakatan ulama, kecuali Syi’ah. Kelompok Syi’ah beralasan kepada beberapa riwayat Sahabat dan Tabi’in yang mengatakan bahwa perkawinan tersebut halal, yang menurut mereka penghalalan ini dikenal sebagai riwayat yang dari Ibnu Abbas.

Sayid Sabiq mengomentari bahwa “Ibnu Abbas membolehkan kawin kontrak (mut’ah) bila diperlukan dalam keadaan darurat dan bukan membolehkan secara mutlak. Tetapi, ketika diketahuinya banyak orang yang melakukannya secara tidak benar dan berlebihan, maka pendapat ini dicabutnya kembali. Ditegaskan bahwa kawin mut’ah ini haram hukumnya bagi orang yang tidak mempunyai alasan yang sah untuk melakukannya”

Namun, pada perkembangannya kemudian nikah mut’ah tersebut dilarang untuk selama-lamanya. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah Saw :

عَنْ سَبُوْرَةَ اَلْجُهَانِى أنَّهُ غَزَّ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتْحَ مَكَّةَ قال فأقَمْنَابِهَاخَمْسَةَعَشَرَفأذٍيْنَ لَنَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى مُتْعَةٍ النّسَاءِ قَالَ فَلَمْ أ خْرُجْ حَتَّى حَرّمَهَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِى رِوَايَةٍ أنَّهُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أيُّهَاالنَاس إنِّى كُنْتُ أذِنْتُ لَكُمْ فِى الإسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَاَنَّ اللهَ قَدْحَرَّمَ ذالِكَ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ...

Artinya:
Dari  Saburah Al-Juhaniy, sesungguhnya ia pernah berperang bersama Nabi Saw pada waktu peperangan penaklukan Makkah, maka kami berada di sana selama lima belas hari, maka Rasulullah mengizinkan kami untuk kawin mut’ah dengan perempuan. Kemudian Saburah berkata: Aku tidak pernah keluar dari Makkah, hingga Rasulullah Saw mengharamkannya. Dan pada satu riwayat lain disebutkan bahwa sesungguhnya ia pernah bersama Nabi Saw, lalu Nabi bersabda: Hai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengizinkan kamu melakukan kawin mut’ah dengan perempuan. Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal (kawin) itu, sampai hari kiamat.” (HR Muslim)

Sayid Sabiq  mengemukakan bahwa hadis ini merupakan alasan bagi para ulama untuk mengharamkan nikah mut’ah setelah sebelumnya dibolehkan oleh Rasulullah Saw. Di samping hal tersebut mereka juga mengemukakan beberapa alasan, yaitu: Pertama, perkawinan dengan pembatasan waktu ini tidak sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an tentang perkawinan, talak, idah dan kewarisan.

Dengan demikian bila dilakukan juga maka perkawinannya batal, sebagaimana perkawinan lain yang dibatalkan oleh Islam. Kedua, Umar bin Khattab, ketika menjadi Khalifah telah mengharamkan kawin mut’ah, ketika ia berpidato di mimbar, dan para sahabat menyetujuinya. Andaikan pendapat Umar ini salah tentu para sahabat tidak akan menyetujuinya., karena mereka tidak mau menyetujui yang salah.

Ketiga, Al-Khathabiy, menjelaskan bahwa haramnya kawin mut’ah itu sudah ijmak, kecuali oleh sebagian Syi’ah. Keempat, tujuan dari perkawinan mut’ah itu hanyalah pelampiasan syahwat, bukan untuk mendapatkan keturunan dan memelihara anak-anak, yang merupakan tujuan dari perkawinan. Karena itu bila ditinjau dari tujuan pelampiasan syahwat ini, maka kawin mut’ah dapat disamakan dengan zina.

Selain itu perkawinan mut’ah atau kawin kontrak ini, karena bersifat sementara akan membuat perempuan dengan mudah akan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Ini akan membuat mereka sengsara, dan anak-anak mereka teraniaya.

Berdasarkan hadis Nabi yang datang kemudian itu, maka sebagian besar ulama (jumhur ulama) menegaskan bahwa nikah mut’ah (kawin kontrak) itu hukumnya haram.

Kemudian, bila kawin kontrak itu pun dikaitkan dengan bunyi pasal 2 ayat (1) UU Nol 1/1974, akan tampak  bertentangan  pula satu sama lain. Pasal ini mengatakan, bahwa perkawinan adalah sah bila dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing dan menurut kepercayaannya masing-masing.

Kalau orang Islam melakukan nikah mut’ah atau nikah kontrak hal ini berarti telah melanggar hukum agamanya sendiri, sebab Islam telah melarang kawin kontrak bagi umat ini didasarkan pada sebuah hadis Rasulullah Saw yang datang kemudian yang berbunyi: “Dari Saburah, sesungguhnya Rasul bersabda, Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku dulu pernah mengijinkan  kamu sekalian bersenang-senang (nikah mut’ah) terhadap wanita. Maka ketahuilah, sesungguhnya Allah telah melarang yang demikian itu sampai hari kiamat nanti”.

Kemudian, ada hadis Nabi Saw seperti telah dikemukakan terdahulu yang berbunyi:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَْهَى عَنْ مُتعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ اَكْل الْحُمُرِالْاِنْسِيَّةِ

Artinya:
 “Bahwasanya Rasulullah Saw melarang kita mengawini secara mut’ah (kawin dalam waktu yang terbatas)  pada hari Khaibar dan juga beliau telah melarang  makan daging khimar yang jinak”. (HR Bukhari, Muslim)

Jadi perkawinan kontrak, apa pun alasannya tidak dapat diterima secara hukum, sebab sama dengan nikah di bawah tangan atau nikah siri. Dalam pernikahan bawah tangan, istri tidak memiliki kekuatan hukum untuk menuntut haknya atas nafkah dan hak waris ketika terjadi perceraian. Anak pun hanya dapat memiliki hubungan perdata dengan pihak ibu tetapi tidak dari ayahnya, dan anak perempuan yang akan menikah akan kesulitan mencari wali nikah.

Pandangan Muhammad Nabil Kazhim  lebih buruk lagi. Beliau menyamakan kawin kontrak dengan zina, karena tidak ada unsur yang membedakan antara keduanya. Dengan mengutip pandangan seorang ulama, beliau menyebutkan setidaknya ada 26 perbedaan antara pernikahan yang sesuai dengan syari’at dan pernikahan yang dilakukan hanya untuk mut’ah (kontrak), yaitu bahwa pernikahan tersebut: tidak kekal (hanya temporer); tidak ada perceraian; tidak ada wali; tidak dihadiri banyak orang; tidak ada saksi; tidak ada penghulu; tidak ada perjanjian; tidak ada tempat tinggal tetap; tidak ada keadilan; tidak dihadiri keluarga; tidak ada mahar; tidak wajib memberikan nafkah; tidak ada iddah wafat; tidak ada warisan; bukan wanita yang beragama baik; bukan wanita yang suci; wanita kontrak (panggilan); bisa jadi memiliki anak, namun tanpa ikatan pernikahan; tidak ada zhihar; dan tidak ada li’an.

Banyak kasus perempuan di Indonesia yang hanya menjadi istri kontrak laki-laki asing yang tinggal beberapa saat saja di Indonesia, sebagai turis atau pekerja asing. Lebih dari itu, dampak dari kawin kontrak jelas membahayakan kaum wanita. Karena wanita dianggap seperti barang dagangan yang bisa diperjual belikan dan dipindah-pindahkan dari satu  ke lain tangan, di samping mengancam masa depan anak-anak bila terjadi kehamilan. Karena mereka takkan mendapatkan perlindungan rumah tangga yang kokoh yang mendidik dan mengantarkan pertumbuhan mereka.

Bagaimanapun, kawin kontrak atau pernikahan dengan batas waktu tertentu, yang dilakoni oleh sebagian masyarakat adalah bentuk penyimpangan terhadap prinsip-prinsip Islam. Kalau konteksnya hanya untuk pemenuhan kebutuhan biologis dan berakhir dalam waktu yang telah disepakati, maka hal ini jelas tidak dibolehkan dalam ajaran Islam.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun melalui pernikahan substansinya bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis semata, melainkan juga untuk membangun struktur sosial yang baik, melahirkan generasi penerus yang berakhlak dan berkualitas serta hubungan suami istri yang membawa ketenangan.  
       
Perilaku seperti itu seharusnya ditinggalkan, karena kalau tetap dilakoni maka beda kawin kontrak dengan berzina sangat tipis dan tidak ada subtansi apa-apa selain pemenuhan kebutuhan biologis semata, kendati kawin kontrak dilegitimasi dengan proses tertentu sehingga dianggap legal.

Bagi umat Islam di Indonesia yang umumnya beraliran Sunni, diharamkannya kawin kontrak bukanlah hal baru yang perlu dipersoalkan. Karena hal ini telah dipahami secara turun temurun sejak dahulu. 

Tag : Fiqih
0 Komentar untuk "Hukum Melakukan Kawin Kontrak Menurut Islam"

Back To Top